CERITA TIGA EDISI

(Edisi pertama: kemaren-kemaren)
Kenalan: Kamu kapan?
Saya : kapan apa ya tante?
Kenalan: nikahnya….
Saya : Di waktu yg tepat menurut Allah 😃😃(sambil senyum2 meski dalam hati ngedumel)

(Edisi kedua: hari ini)
Kenalan: kok telat?
Saya : haa?? (Sambil garuk2 kepala) telat apa ya tante?
Kenalan: Nikahnya
Saya : (melongo makin bingung) lahh telat itukan klu kita ada janji tante lewat dr janji itu baru telat… emang nikah itu perkara janji ya tante, kok dibilang telat? 😅😅

(Edisi ketiga: besok-besok)
Kenalan : Akhirnya setelah penantian panjang….. (si tante cengengesan) kok bisa? Kenapa?
Saya : (dan semoga jawaban saya)…. karna ketika mengenalny saya merasa syurga terasa begitu dekat… yihaaa 😇😇😂😂

(Padang, 03 Maret 2017)

ALAMPUN BERBAHASA

Mendung bergelayut manja

Pada rindang awan yang rimbun

Seakan siang tak perlu ada

Menyambut riak disumber hujan

Tak ada mentari hingar bingar menyapa hari ini

Seolah tahu dermaga kering

bersahabat saja alam rasanya…

seakan pelangi ingin muncul di sela-selanya nanti sore

Namun kita tak mampu memaknai

Betapa alam selalu berbahasa

Menunjukkan cinta pada semua

 

(Batusangkar, 01 Januari 2016)

JOMBLO DI USIA 30 TAHUN

 

Sedikit terusik ingin menulis tentang hal ini, bukan hanya tentang Rifa secara pribadi yang akhir tahun depan genap 30 tahun (jangankan akhir tahun depan tanggal 1 besok sudah masuk hitungan 30 tahun dan masih singel) tapi juga tentang sebagian teman – teman yang sering mencurahkan isi hati tentang kegundah gulanaan menjadi seorang jomblo di usia 30 tahun.

Bukannya ingin membela diri guys.. ataupun membela teman-teman yang senasib… hanya mungkin lebih kepada memberi tahu saja bahwasanya hal ini sebetulnya sangat tidak mudah untuk dilewati. Mungkin bagi saudara-saudariku yang cantik tampan soleh dan sholeha sepertinya para jomblo bermain-main dengan manajemen kehidupan mereka, sibuk dengan pendidikan, karier dan lainnya sehingga tidak ingin menikah, atau mungkin terlambat menikah. Sadarilah guys.. tidak semua berpikir duniawi semata, ada hal-hal yang mungkin saudara-saudariku tidak lewati yang mereka lewati dikarenakan banyak yang justru tidak perlu terlalu berusah payah menemukan soulmatenya, ada pergulatan batin yang mereka lewati yang justru saudara-saudariku mungkin tidak mengalaminya.

Rifapun sebetulnya sangat menyadari, bahwasanya semakin matang usia seseorang untuk menikah semakin banyak pertimbangannya, ada benarnya namun tetaplah tidak sepenuhnya benar. Sejujurnya rifa sendiripun punya goal oriented tentang ini, dan tahu benar menikah itu adalah sunnah dan penyempurnaan agama, karena itupun dari dahulu Rifapun punya plan menikah justru di usia 25-26, mungkin yang juga merupakan motivator bagi kwan-kawan yang punya pacar untuk segera menikah, dan faktanya empat tahun berlalupun masih singel dan teman-teman itu ada yang jadi menikah dan ada juga yang sudah sekian kali cerai. Jangan dikira secara pribadipun Rifa tidak punya upaya ke arah situ, empat tahun bukan waktu yang mudah lo guys jatuh bangun melewati waktu yang menjadi target kita pada awalnya untuk melaksanakan niat mulia itu.

Pilih-pilih

Rasanya enggak juga guys… rifa bukan orang yang luar biasa di uber orang-orang sehingga punya kesempatan untuk memilih. Bagaimana caranya memilih kalau yang datang satu-satu dan di waktu yang berbeda? Dan rasanya kalupun menolak itupun cukup wajar guys, karna tidak sekufu pemahamannya dengan kita. Rifa tahu persis tidak ada manusia yang sempurna, namun salahkah dalam hal ini kita menyesuaikan dengan yang mirip-miriplah tujuan hidupnya dengan kita? Tak perlu sih harus 100% sama, setidaknya 30-40%lah, ntahlah kalau dalam hal inipun rifa dianggap masih terlalu rumit… ataukah haruskah langsung embat saja ketika ada yang melamar? Pemahaman ini Rifa yang belum mampu mencernanya guys… ada yang mengatakan ikhlas saja biar Allah yang merubah seseorang, apa bisa demikian guys? Sedemikian sederhanakah sebetulnya cara pandangnya? Toh pada kenyataannya rata-rata orang yang Rifa tanyapun tentang bagaimana mereka menemukan soulmate mereka bilang ada kecendrungan hati atau setidaknya ada yang membuat mereka tertarik. Berarti parameter umum memang kecendrungan hati dong?

Selanjutnya sibuk sekolah

Mmmm sebenarnya ketika Rifa mendapat komen ini, Rifa merasa ketawa sendiri dalam hati. Rifa sudah memiliki pikiran dan target menikah justru disaat S1 belum kelar, ataupun tepatnya ketika Rifa masih SMA, kira2 nanti Rifa nikah 26 tahunan saja gitu loh, nah kalu pada kenyataannya Rifa terus saja sekolah itu sebetulnya hanya salah satu cara Rifa membuat hidup itu terasa lebih bermakna dan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas diri, semoga dengan belajar lebih banyak kita bisa berkonstribuski lebih buat sesama, karna pada hakikatnya belajar itu memiliki tujuan untuk menambah pengetahuan kita agar bisa merubah attitude dan pada akhirnya membuat kita dekat dengan sang khalik. Nah inikan bisa kita tularkan sama lingkungan. Jadi kenapa tidak berupaya sambil usaha untuk tetap terus belajar… dimananya yang salah?

Kamu sih tertutup.. Waktu kuliah sibuk sama diri sendiri padahal waktu kuliah itu kesempatan untuk mencari yang tulus, kalau sekarang mah susah nyari yang tulus semuanya serba materi

Ini lebih lucu lagi langsung menjustifikasi seseorang tanpa tahu backgrond seseorang. Rifa ingat waktu kuliah sibuk dengan sejumlah aktivitas, organisasi mulai dari BEM, organisasi di luar kampus, siaran radio dll deh pokoknya, intinya tidak ada yang salah dengan pergaulan yang ada. Nah mencari pacar pas kuliah? Rifa tahu persis ini bukan satu2nya solusi, malah para hijabar justru tidak kenal pacaran, faktanya mereka justru banyak yang menikah di usia muda. Nah rifa sendiri? Rifa juga bukan yang termasuk alim. Rifa pernah pacaran loh dulu dan tahukah guys? Semua identitasnya pacar Rifa mengatakan kita se iman faktanya? Ternyata keyakinan agama kita berbeda, nah itu prinsipil loh guys….

Hal lain tentang pacaran, Rifa punya teman pacaran delapan tahun ujung-ujungnya nikah sama yang baru dikenal beberapa bulan, gimana coba? Jadi pacaran bukan satu2nya solusi.

Ibadah kamu kurang-kurang kali

Nah kalu ini mending rifa ga jadikan diri sendiri sebagai parameter, takut riya. Umum saja ya… banyak temen yang bergaulannya baik, ibadahnya baik tercermin dari sikapnya yang juga santun, peduli sesama, menjaga diri dengan baik, juga masih jomblo guys dan Rifa melihat merekapun ga main2 usahanya, usaha dalam artian baik maksudnya guys.. dimana salahnya?

Tidak sayang sama orang tua

Memang telat menikah itu durhaka ya guys?

Memang benar kasihan orang tua terlalu risau dengan anak gadis yang belum menikah, namun guys mana ada sih anak yang tidak mencintai orang tuanya di dunia ini kecuali yang memang ada kelainan phisikologis, memang kita bisa menjudge yang belum menikah di usia 30 menderita kelainan phisikologis? Kan tidak begitu guys! Menikah itu bukan akhir dari masalah dunia loh, justru awal dari perjalanan baru untuk beribadah kepada Allah, makanya dipakai istilah “selamat menepuh hidup baru”.

Guna-guna

Mmmm untuk hal ini percaya ga percaya sih guys… karna dalam Al-qur’an pun memang ada dikatakan, namun rillnya kan tidak bisa melihat yang begini, gaib bagi kita. Namun kita berupaya keras agar jangan sampai kita menemukan solusi instan dari permasalahan yang kita alami dengan merusak akidah kita sendiri. Percayakan saja sama yang diatas guys.. Allah pasti menolong hamba-Nya. Jangan sampai kita terjebak pada solusi yang kita sendiri tidak punya ilmu yang cukup untuk mencerna itu.

Sebenernya tulisan ini pernah rifa bahas sebelumnya di blog ini, yah seputar masalah jodoh, namun mungkin dalam bentuk yang lebih simple, intinya rifa mau katakan jangan gampang menjustifikasi seseorang kenapa belum menikah guys… kita tidak tahu apa yang dialami orang lain untuk memasuki gerbang yang saudara-sadariku sudah lewati. Sebaiknya dari pada sibuk bertanya dan menambah beban pikiran mereka alangkah baiknya memberikan solusi. Kalau tidak mampu mending tidak usah terlalu banyak komentar karna itu bisa saja menambah beban mereka, mungkin maksud saudara-saudariku sangat baik hanya saja para jomblo agak sensitif ditanya hal-hal tanpa solusi apalagi kalau modnya tidak baik.

so.. Ayo kita bersikap bijaksana!

Kalau boleh jujur merekapun sebetulnya juga takut sendirian loh, melewati hari sendirian tanpa ada tempat untuk berbagi kebahagiaan dan duka, namun bisa jadi memang mereka belum selesai dengan diri mereka sendiri, atau lingkungan yang tidak kondusif untuk membuat mereka punya kesempatan lebih untuk menemukan sahabat seperjalanan dunia akhirat, nah tugas kita semualah untuk turut serta meringankan beban mereka.

Problem orang lain guys juga ladang ibadah kita guys…. bisa jadi yang di uji itu sebenarnya bukanlah para jomblo semata tapi juga saudara-saudariku yang sudah menikah agar lebih peduli dengan sekitar dan turut serta mencari solusi buat mereka… (menurut Rifa loh 😀 :D) hehe *versi sok bijaksana :p

 

 

 

Bunda..

Ada haru menyeruak kala kulihat kilau dalam matamu
Ada rindu membuncah kala kudengar sendu namaku kau sebut
Ada kesejukan yang menyala kala kau bentang tangan menyambut hadirku

Bunda…
Ada seribu cinta yang tak mampu kusebut saat kau belai aku dalam sayangmu.

Padang, 10 Desember 2014

Tentang ODOJ

kali ini saya ingin bercerita tentang ODOJ.
Pernah dengar tentang ODOJ? ODOJ adalah suatu komunitas para pencinta Al-Qur’an yang tergabung dalam Group Waatsapp, dimana anggotanya terdiri dari 30 orang dan satu admin jadi totalnya 31 orang. Setiap orang kebagian satu juz yang berbeda setiap hari secara berurutan sehingga ada namanya khatam group setiap hari.
Namun seiring perkembangannnya ODOJ tidak lagi menggunakan kahatam group tetapi hanya menghitung berapa orang yang kholas dalam satu hari.
Sebenarnya sangat terlambat membuat postingan tentang ODOJ karena ODOJ sudah berjalan setahunan lebih dan saya juga kurang lebih sudah setahunan juga menjadi anggota ODOJ, disamping itu juga sudah banyak yang membuat postingan tentang ODOJ, tapi mengingat benyak manfaat yang didapat dengan bergabung di komunitas ini saya tergerak untuk ikut serta bercerita tentang ODOJ.
Awalnya saya diajakin temen untuk gabung di komunitas ini, dan sejujurnya agak berat, tilawah se juz sehari? Yang benar aja?
Tapi ini sarana melatih ke konsistenan kita menurut saya, karena bukan hal yang mustahil juga terkadang memang terasa sangat berat menyelesaikan tilawah satu juz sehari ditengah rutinitas kita yang terkadang sangat padat, namun justru disitu tantangannya.
Lama-lama justru terasa aneh jika dalam sehari kita tidak menyelesaikan tilawah se juz sehari.
Disamping itu persaudaran yang erat juga terjalin erat ditengah komunitas yang sama sekali belum sempat dikenal secara langsung, namun kebersamaan yang terus dipupuk dalam rangka komitmen tilwah se juz sehari justru menjadi ukhuwah yang terasa manis.

Padamu Yan…

Padamu yan…
Padamu yan, kuhaturkan beribu maaf
Atas rasa yang tak pernah penuh tertuju untukmu
Tak ku mengerti kenapa sekeping hati ini tak menjamu rindu yang mengharu biru padamu
Tak ku mengenal sekeping hati yang menari seperti “Roller Coaster”

Yan…
Bukanku tak menyimpan asa untukmu
Hanya saja aku bertanya-tanya sendiri tentang logika hati yang tak ku mengerti kali ini
Aku akui cinta itu ada
Rindu itu nyata
Aku selalu menoleh kenanan ke kiri saat aku tak melihat raut dewasamu dikerumunan
Aku sering menunggu dering telpon dimana terpampang namamu dengan jelas
Aku selalu mencarimu saat beribu beban seperti nyangkut dibahuku
Aku memikirkanmu saat ada yang mengatakan hatinya penuh rindu padaku

Yan…
Benar tak ku mengerti rasa apa ini
Separo membeku separo mendidih
Ada dualisme dalam perang batin yang tak berkesudahan
Saat kau nyatakan ingin mahligaisuci itu mengikat kita

Yan….
Beribu maaf ku haturkan
Pada hatimu yang begitu lembut
Atas semua sikap yang terkadang begitu menjemukan
Aku hanya minta
Beri aku sedikit waktu lagi
Untuk meraba rindu yang kau tanam
Untuk menggali impian yang kau bentang tentangku

Yan…
Aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama mengenal dentingan melodi hatiku
Bukan hatimu yang tak kukenal, tapi hatiku yang terasa begitu asing
Aku tahu yan, ada banyak harap yang kulihat dari caramu memandangku
Tapi ada banyak air mata yang kulihat dibalik senyummu

Yan…
Aku hanya tak mengenal hatiku saat ini
Bukan ku tak cinta
Hanya saja tak ada deraian kata yang mampu ku ucapkan saat rindu kita bertemu

Yan…Ini bukan tentang cinta semata
Tapi terlebih tinggi adalah tentang sudut pandang kita yang tak pernah sama