Perjalanan

Sampai pada titik dimana masa menjadi jeda untuk berkisah
tentang rentetan perjalananmu menempuh jarak dengan kaki telanjangmu, puluhan kilometer, ribuan dan bahkan jutaan mil laut menjadi saksimu menyinggahi tempat-tempat penuh keindahan, melintasi langit biru penuh kedamaian, ataupun kepiawaianmu memanjat terjalnya tebing-tebing demi menikmati lonjakan adrenalin.
.
Namun semuanya takkan berarti jika kau tidak pernah melakukan perjalan hati, karna artinya engkau tidak pernah pergi kemanapun. Sejatinya, engkau tetaplah masih berada ditempat yang sama.

Padang, 03 Februari 2019

Dear adikku Ica…

Dear adikku Ica,
Kami menjadi saksi perjuanganmu yg tidak mudah sampai di fase ini, seringkali hati baikmu patah. Namun akhirnya setelah kita sm2 belajar menjemput jodoh dengan cara yg Allah senangi, dengan meninggalkan pacaran dan derifat2nya, akhirnya Allah mempertemukan kita dengan pendamping hidup yg insya Allah Allah ridhoi. 😇
Namun, perjuangan yg sesungguhnya bukanlah sampai di fase ini, akan tetapi bagaimana setelahnya. Semoga kekuatan cinta kalian kepada Allah mampu membuat jalinan suci ini sampai ke surga sana…
.
Barakallah fii untuk, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah…. 😍😍

Tentang waktu

Tentang waktu-waktu yang berlari dengan sangat cepat
Melesat laksana anak panah…
Begitulah kehidupan berlalu tanpa jeda,
Sebagiaannya sempat terjaring dalam bingkai-bingkai di dinding ruang tamu
Yang engkau pajang dengan semangat yang gaduh penuh suka cita
Namun evaluasi menjadi suatu hal yang tetap harus kita lakukan
Agar tak sia-sia segala harapan yang terangkai dalam seikat janji saat pertama kali hati kita saling datang untuk berteduh
.
Dan sampailah kita pada hari ini…
untuk merenungkan kembali segala yang terlewati
semoga masih banyak waktu kita tumbuh bersama
untuk saling belajar , saling menerima dan saling memotifasi
karena sungguh aku menyadari bahwa kehidupan ini teramatlah singkat
dan masa depanpun adalah misteri…
karnanya, di detik ini aku ingin mengatakan:
“maaf untuk hal-hal yang tidak berkenan dihati,
karena sejatinya aku adalah seorang fakir ilmu yang masih belajar untuk memahami,
masih belajar untuk mengendalikan egoku sendiri, masih belajar untuk membahagiakan”
meski aku merasakan, bahwa bersamamu adalah anugrah,
namun akupun tahu pasti, bahwa tak selamanya tindakan ini benar dan menyenangkan…
karnanya… jangan bosan dan jenuh untuk terus mengingatkan dan mengajariku menjadi makmum terbaik..
tetaplah teguh pada niat awalmu ketika memintaku untuk menjadi teman seperjalanan,
karena harapan itulah yang sejak awal membuat cintaku tumbuh perlahan-lahan..

Istiqoroh Cinta

Sembari asik mengutak atik laptop, seorang teman bertanya “kak bagaimana cara memutuskan kalau orang tersebutlah jodoh kita?”
Di lain waktu di sela-sela kegiatan beberapa teman lain juga bertanya “ wid, bagaimana cara menemukan jawaban dalam istiqoroh?” atau “bagaimana kalau yang datang melamar tidak sesuai harapan? Sedangkan usia sudah beranjak tua?” dan juga “bagaimana nanti kalau ternyata kita salah memilih dan pada akhirnya berakhir tragis?”

Sebenarnya dari segi ilmu, mungkin bukan kapasitas saya untuk menjawab ini, namun dari sudut pengalaman saya pribadi terlintas pemikiran untuk menuliskan ini, barangkali bisa menjadi reference tambahan bagi yang sedang galau dan resah dengan masalah jodoh…..

Saya pribadi menemukan jawaban tentang jodoh sebetulnya melalui istiqoroh dan tentunya jangan bayangkan bahwasanya Allah memberikan jawaban seperti layaknya manusia berbincang, karena hanya nabi Musa yang memiliki mu’jizat tersebut dan tentunya juga tidak selalu jawaban istiqoroh tersebut datang lewat mimpi. Walaupun saya pribadi menemukan jawaban tentang jodoh salah satunya lewat mimpi namun saya juga menemukan jawaban siapa jodoh saya lewat arah-arah perjalanan yang jauh lebih mulus ke arah pasangan tersebut.

Parameter apa yang bisa kita gunakan jika jawaban istiqoroh tersebut bukanlah lewat mimpi?
Dari pengalaman, hal yang paling utama saya lakukan jauh sebelum jodoh saya datang adalah belajar banyak hal tentang pernikahan, bagaimana memilih pasangan, bagaimana hak dan tanggung jawab baik sebagai istri maupun suami, bagaimana cara ikhlas menerima kekurangan pasangan dan tentunya berdo’a. Simplenya adalah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Karena itu saya berani mengatakan bahwa jodoh itu datang di saat kita siap. Saya punya target menikah di usia 26 tahun memang tapi pada kenyataannya saya tidak pernah benar-benar siap, sehingga kalau ada yang datang melamar saya selalu tidak mampu wellcome, saya tidak punya keberanian untuk melangkah ke kehidupan pernikahan, sangat banyak hal-hal negative yang muncul dikepala saya, alasan-alasan yang klise karna ketakutan-ketakutan yang Kajol alias kagak jolas alias gak jelas selalu menjadi senjata andalan saya untuk menghindar.

Tapi dibelakang hari saya syukuri juga, sebelumnya saya punya target menikah di usia 26 tahun justru ketemu jodoh di usia 29 tahun udah dekat 30 sebenarnya, dan menikah di usia 30 tahun sehingga saya punya banyak waktu (4 tahunan) untuk belajar dan mempersiapkan diri sebelum jodoh saya datang, inipun saya tidak pernah yakin saya akan mampu menjadi pasangan yang baik bagi pasangan saya.
Tapi setidaknya saya punya sedikit bekal ilmu untuk itu. Berbekal sedikit pengetahuan saya mulai belajar bagaimana mencintai karna Allah sehingga pada akhirnya saya menjadikan sholat sebagai parameter utama saya untuk memilih, sholatnya lima waktu atau tidak, kalau ontime sholatnya saya anggap itu sebagai bonus karna saya sendiri masih sering juga sholat di ujung waktu, kemudian sikapnya sehari-hari dalam bergaul karna kebetulan saya dan pasangan bekerja di instansi yang sama maka saya bisa mengenali langsung cara dia berinteraksi, bagi yang tidak satu komunitas mencari reference sebanyak-banyak adalah solusi terbaik dan tentunya reference tersebut mestilah dari orang-orang yang yang juga baik agamanya, sudut pandangnya, luas wawasannya, dan fair penilaiannya.
Tapi yang mesti harus kita sadari sepenuhnya, si calon pasangan adalah manusia biasa seperti kita, punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan sudah pasti dapat diterima dan kekurangan selagi bukanlah hal-hal yang prisipil itu bukanlah persoalan. Prinsip dari sudut pandang saya adalah masih segamakah dengan saya, sholatnya 5 waktu atau tidak, bertanggung jawab atau tidak.

Jawaban istiqoroh yang bukan lewat mimpi saya temukan dengan cara:
1. Sholatnya 5 waktu
2. Pergaulannya baik
3. Bertanggung jawab
4. Memberi limit waktu terhadap diri sendiri (istiqoroh saya)
Dengan parameter poin 1,2,3 saya banyak berdo’a, istiqoroh, minta
reference sama yang agamanya baik dan memberikan limit waktu Kediri
sendiri untuk memutuskan menerima atau tidak
5. Ikhlaskan karna Allah
Iklaskan karena Allah termasuk keberanian untuk mencoba
Jika parameter 1,2,3 terpenuhi maka rasanya termasuk zolim kita ke yang
bersangkutan maupun ke diri sendiri untuk menolak, maka terimalah dan
ikhlaskan karena Allah. Yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baiknya
penolong. Jika memang yang bersangkutan adalah jodoh kita Allah akan
mudahkan prosesnya, jika bukan maka Allah yang akan menjauhkan dari
kita sekalipun lamaran sudah dilaksanakan, karnanya izinkan dengan
sepenuh hati tangan Allah yang bekerja untuk kita.

Bagaimana kalau dalam perjalanannya pasangan kita itu tak sesuai dengan harapan kita dan berakhir tragis?

Apa yang terjadi nanti itu adalah gaib bagi kita, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dikemudian hari, ilmu kita terbatas tentang itu tapi yang pasti jika kita ikhlas karena Allah andaikata dalam perjalanannya pasangan kita berubah sehingga kehidupan pernikahan berakhir tragis setidaknya pada awalnya kita sudah memilih karena Allah. Bukankah misi kita datang ke dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah? Pernikahan itu adalah ibadah. Jika berakhir tragis yakinlah bahwasanya ada hikmah yang Allah ingin ajarkan kepada kita, bisa jadi itu juga bagian dari proses kita menemukan pasangan kita yang sesungguhnya sudah digariskan di lauh mahfuz. Mungkin juga Allah pengen kita belajar banyak dari mantan pasangan atau Allah ingin tompangkan yang bersangkutan untuk belajar banyak dari kita, kita tidak pernah tahu yang pasti jika itu karena Allah yakinlah itu yang terbaik. Memang tiap orang memiliki prosesnya masing-masing agar sampai di posisi yang sama hingga berjodoh. So apa yang perlu dikhawatirkan?

CERITA TIGA EDISI

(Edisi pertama: kemaren-kemaren)
Kenalan: Kamu kapan?
Saya : kapan apa ya tante?
Kenalan: nikahnya….
Saya : Di waktu yg tepat menurut Allah 😃😃(sambil senyum2 meski dalam hati ngedumel)

(Edisi kedua: hari ini)
Kenalan: kok telat?
Saya : haa?? (Sambil garuk2 kepala) telat apa ya tante?
Kenalan: Nikahnya
Saya : (melongo makin bingung) lahh telat itukan klu kita ada janji tante lewat dr janji itu baru telat… emang nikah itu perkara janji ya tante, kok dibilang telat? 😅😅

(Edisi ketiga: besok-besok)
Kenalan : Akhirnya setelah penantian panjang….. (si tante cengengesan) kok bisa? Kenapa?
Saya : (dan semoga jawaban saya)…. karna ketika mengenalny saya merasa syurga terasa begitu dekat… yihaaa 😇😇😂😂

(Padang, 03 Maret 2017)

ALAMPUN BERBAHASA

Mendung bergelayut manja

Pada rindang awan yang rimbun

Seakan siang tak perlu ada

Menyambut riak disumber hujan

Tak ada mentari hingar bingar menyapa hari ini

Seolah tahu dermaga kering

bersahabat saja alam rasanya…

seakan pelangi ingin muncul di sela-selanya nanti sore

Namun kita tak mampu memaknai

Betapa alam selalu berbahasa

Menunjukkan cinta pada semua

 

(Batusangkar, 01 Januari 2016)

JOMBLO DI USIA 30 TAHUN

 

Sedikit terusik ingin menulis tentang hal ini, bukan hanya tentang Rifa secara pribadi yang akhir tahun depan genap 30 tahun (jangankan akhir tahun depan tanggal 1 besok sudah masuk hitungan 30 tahun dan masih singel) tapi juga tentang sebagian teman – teman yang sering mencurahkan isi hati tentang kegundah gulanaan menjadi seorang jomblo di usia 30 tahun.

Bukannya ingin membela diri guys.. ataupun membela teman-teman yang senasib… hanya mungkin lebih kepada memberi tahu saja bahwasanya hal ini sebetulnya sangat tidak mudah untuk dilewati. Mungkin bagi saudara-saudariku yang cantik tampan soleh dan sholeha sepertinya para jomblo bermain-main dengan manajemen kehidupan mereka, sibuk dengan pendidikan, karier dan lainnya sehingga tidak ingin menikah, atau mungkin terlambat menikah. Sadarilah guys.. tidak semua berpikir duniawi semata, ada hal-hal yang mungkin saudara-saudariku tidak lewati yang mereka lewati dikarenakan banyak yang justru tidak perlu terlalu berusah payah menemukan soulmatenya, ada pergulatan batin yang mereka lewati yang justru saudara-saudariku mungkin tidak mengalaminya.

Rifapun sebetulnya sangat menyadari, bahwasanya semakin matang usia seseorang untuk menikah semakin banyak pertimbangannya, ada benarnya namun tetaplah tidak sepenuhnya benar. Sejujurnya rifa sendiripun punya goal oriented tentang ini, dan tahu benar menikah itu adalah sunnah dan penyempurnaan agama, karena itupun dari dahulu Rifapun punya plan menikah justru di usia 25-26, mungkin yang juga merupakan motivator bagi kwan-kawan yang punya pacar untuk segera menikah, dan faktanya empat tahun berlalupun masih singel dan teman-teman itu ada yang jadi menikah dan ada juga yang sudah sekian kali cerai. Jangan dikira secara pribadipun Rifa tidak punya upaya ke arah situ, empat tahun bukan waktu yang mudah lo guys jatuh bangun melewati waktu yang menjadi target kita pada awalnya untuk melaksanakan niat mulia itu.

Pilih-pilih

Rasanya enggak juga guys… rifa bukan orang yang luar biasa di uber orang-orang sehingga punya kesempatan untuk memilih. Bagaimana caranya memilih kalau yang datang satu-satu dan di waktu yang berbeda? Dan rasanya kalupun menolak itupun cukup wajar guys, karna tidak sekufu pemahamannya dengan kita. Rifa tahu persis tidak ada manusia yang sempurna, namun salahkah dalam hal ini kita menyesuaikan dengan yang mirip-miriplah tujuan hidupnya dengan kita? Tak perlu sih harus 100% sama, setidaknya 30-40%lah, ntahlah kalau dalam hal inipun rifa dianggap masih terlalu rumit… ataukah haruskah langsung embat saja ketika ada yang melamar? Pemahaman ini Rifa yang belum mampu mencernanya guys… ada yang mengatakan ikhlas saja biar Allah yang merubah seseorang, apa bisa demikian guys? Sedemikian sederhanakah sebetulnya cara pandangnya? Toh pada kenyataannya rata-rata orang yang Rifa tanyapun tentang bagaimana mereka menemukan soulmate mereka bilang ada kecendrungan hati atau setidaknya ada yang membuat mereka tertarik. Berarti parameter umum memang kecendrungan hati dong?

Selanjutnya sibuk sekolah

Mmmm sebenarnya ketika Rifa mendapat komen ini, Rifa merasa ketawa sendiri dalam hati. Rifa sudah memiliki pikiran dan target menikah justru disaat S1 belum kelar, ataupun tepatnya ketika Rifa masih SMA, kira2 nanti Rifa nikah 26 tahunan saja gitu loh, nah kalu pada kenyataannya Rifa terus saja sekolah itu sebetulnya hanya salah satu cara Rifa membuat hidup itu terasa lebih bermakna dan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas diri, semoga dengan belajar lebih banyak kita bisa berkonstribuski lebih buat sesama, karna pada hakikatnya belajar itu memiliki tujuan untuk menambah pengetahuan kita agar bisa merubah attitude dan pada akhirnya membuat kita dekat dengan sang khalik. Nah inikan bisa kita tularkan sama lingkungan. Jadi kenapa tidak berupaya sambil usaha untuk tetap terus belajar… dimananya yang salah?

Kamu sih tertutup.. Waktu kuliah sibuk sama diri sendiri padahal waktu kuliah itu kesempatan untuk mencari yang tulus, kalau sekarang mah susah nyari yang tulus semuanya serba materi

Ini lebih lucu lagi langsung menjustifikasi seseorang tanpa tahu backgrond seseorang. Rifa ingat waktu kuliah sibuk dengan sejumlah aktivitas, organisasi mulai dari BEM, organisasi di luar kampus, siaran radio dll deh pokoknya, intinya tidak ada yang salah dengan pergaulan yang ada. Nah mencari pacar pas kuliah? Rifa tahu persis ini bukan satu2nya solusi, malah para hijabar justru tidak kenal pacaran, faktanya mereka justru banyak yang menikah di usia muda. Nah rifa sendiri? Rifa juga bukan yang termasuk alim. Rifa pernah pacaran loh dulu dan tahukah guys? Semua identitasnya pacar Rifa mengatakan kita se iman faktanya? Ternyata keyakinan agama kita berbeda, nah itu prinsipil loh guys….

Hal lain tentang pacaran, Rifa punya teman pacaran delapan tahun ujung-ujungnya nikah sama yang baru dikenal beberapa bulan, gimana coba? Jadi pacaran bukan satu2nya solusi.

Ibadah kamu kurang-kurang kali

Nah kalu ini mending rifa ga jadikan diri sendiri sebagai parameter, takut riya. Umum saja ya… banyak temen yang bergaulannya baik, ibadahnya baik tercermin dari sikapnya yang juga santun, peduli sesama, menjaga diri dengan baik, juga masih jomblo guys dan Rifa melihat merekapun ga main2 usahanya, usaha dalam artian baik maksudnya guys.. dimana salahnya?

Tidak sayang sama orang tua

Memang telat menikah itu durhaka ya guys?

Memang benar kasihan orang tua terlalu risau dengan anak gadis yang belum menikah, namun guys mana ada sih anak yang tidak mencintai orang tuanya di dunia ini kecuali yang memang ada kelainan phisikologis, memang kita bisa menjudge yang belum menikah di usia 30 menderita kelainan phisikologis? Kan tidak begitu guys! Menikah itu bukan akhir dari masalah dunia loh, justru awal dari perjalanan baru untuk beribadah kepada Allah, makanya dipakai istilah “selamat menepuh hidup baru”.

Guna-guna

Mmmm untuk hal ini percaya ga percaya sih guys… karna dalam Al-qur’an pun memang ada dikatakan, namun rillnya kan tidak bisa melihat yang begini, gaib bagi kita. Namun kita berupaya keras agar jangan sampai kita menemukan solusi instan dari permasalahan yang kita alami dengan merusak akidah kita sendiri. Percayakan saja sama yang diatas guys.. Allah pasti menolong hamba-Nya. Jangan sampai kita terjebak pada solusi yang kita sendiri tidak punya ilmu yang cukup untuk mencerna itu.

Sebenernya tulisan ini pernah rifa bahas sebelumnya di blog ini, yah seputar masalah jodoh, namun mungkin dalam bentuk yang lebih simple, intinya rifa mau katakan jangan gampang menjustifikasi seseorang kenapa belum menikah guys… kita tidak tahu apa yang dialami orang lain untuk memasuki gerbang yang saudara-sadariku sudah lewati. Sebaiknya dari pada sibuk bertanya dan menambah beban pikiran mereka alangkah baiknya memberikan solusi. Kalau tidak mampu mending tidak usah terlalu banyak komentar karna itu bisa saja menambah beban mereka, mungkin maksud saudara-saudariku sangat baik hanya saja para jomblo agak sensitif ditanya hal-hal tanpa solusi apalagi kalau modnya tidak baik.

so.. Ayo kita bersikap bijaksana!

Kalau boleh jujur merekapun sebetulnya juga takut sendirian loh, melewati hari sendirian tanpa ada tempat untuk berbagi kebahagiaan dan duka, namun bisa jadi memang mereka belum selesai dengan diri mereka sendiri, atau lingkungan yang tidak kondusif untuk membuat mereka punya kesempatan lebih untuk menemukan sahabat seperjalanan dunia akhirat, nah tugas kita semualah untuk turut serta meringankan beban mereka.

Problem orang lain guys juga ladang ibadah kita guys…. bisa jadi yang di uji itu sebenarnya bukanlah para jomblo semata tapi juga saudara-saudariku yang sudah menikah agar lebih peduli dengan sekitar dan turut serta mencari solusi buat mereka… (menurut Rifa loh 😀 :D) hehe *versi sok bijaksana :p